Minggu lalu kami ke Jakarta, kota dimana saya besar hingga selesai kuliah (eh tidak selesai sih) sebelum hijrah ke Surabaya. Dan buat istri saya yang baru dua kali ke Jakarta, tempat yang ia canangkan dari awal untuk disatroni adalah Mangga Dua dan Grosir Tanah Abang. Saya benar-benar malas dengan ide itu. Kalau Mangga Dua sih rasanya biasa saja, tempatnya masih enak, bersih, ada AC nya, jalan-jalan antar kiosnya lebar. Walau desak-desakan sekalipun (waktu itu pernah ke sana saat menjelang natal sehingga memang sedang ramai-ramainya) tapi tetap masih lebih manusiawi dibanding dengan Tanah Abang. Tapi kata istri saya - yang ia ketahui dari televisi - bahwa Grosir Tanah Abang sekarang sudah tidak seperti dulu. Sudah modern. Masa? Memang sih terakhir saya ke Grosir Tanah Abang mungkin adalah tahun 2000-an ketika masih kuliah dan menemani mantan pacar yang beli kain buat kursus jahitnya :). Ya akhirnya saya nurut saja dengan kemauan istri.
Dan ternyata benar. Pusat grosir pakaian dan fashion di Jakarta ini memang telah berubah sangat drastis. Dulu saya ke sini naik angkot dari Kampung Rambutan, lalu masih harus jalan kaki ke lokasi. Kini sudah tidak. Walau kami kemarin naik taksi, tapi penataan daerah sekitar tanah abang sudah berubah drastis, walau masih menyisakan tipikal kota Jakarta yang ruwet dan macet. Dan yang paling tidak disangka adalah berdirinya bangunan megah - yang kemudian saya ketahui berjumlah 10 lantai - yang ternyata itulah Pusat Grosir Tanah Abang yang dulu merupakan tempat yang paling malas saya kunjungi. Bangunannya yang didominasi warna hijau dengan desain - saya nilai - sedikit Islami - sudah sangat jauh berbeda dengan kondisi dulu waktu pertama kali ke sini.
Dalamnya? Wow, AC sekarang sudah membuat para pengunjung menjadi betah berlama-lama belanja baju dan pakaian atau sekedar kain. Memang Tanah abang dikenal sebagai pusat grosir baju dan tekstil terbesar, yang kabarnya se-Asia Tenggara. Saya jadi teringat dulu sewaktu ke sini 10 tahunan lalu, mungkin kepala saya selama di dalam pusat belanja ini terhajar gulungan kain atau karung hingga lebih dari 3 kali. Maklum saya tinggi, dan gang pemisah antara masih-masing kios sangat sempit. Kalau ada kuli panggul lewat - walau sambil bilang “awas” - tapi tetap saja kepala saya tercolek ujung gulungan. Bagaimana tidak, kalau si kuli ngomongnya sangat cepat tanpa ngerem sedikitpun. Makanya dulu kalau ditanya orang, barang apa yang paling murah di Tanah Abang? Baju? Gamis? Busana Muslim? Pasti saya jawab : kepala saya! Karena tidak dihargai
Oh ya, salah satu motivasi saya ingin menemani istri ke Tanah Abang saat itu adalah juga karena tetangga saya sewaktu masih SD, ternyata sekarang punya kios baju anak di sini. Jadi sekalian bernostalgia dan reuni. Jadi ingat dulu sewaktu kecil pernah nyuri jambu tetangga malam-malam.
No Comments
Leave a Comment
trackback address